Jadi barusan gue nonton Hunger Games. Bagi yang belum tau, Hunger Games ini bukunya ada 3 biji. Judul pertama ya Hunger Games. Nah di dalam story-nya diceritakan bahwa ada sebuah negara di masa depan (yang dulunya Amerika) yang memiliki beberapa kota satelit (distrik 1-12) yang hidupnya dibawah garis kemiskinan. Untuk mendapatkan makan, tiap distrik harus mengirimkan 2 perwakilannya untuk mengikuti permainan yg hanya akan dimenangkan satu orang. Nah nantinya, dalam permainan tersebut. Tiap orang harus saling membunuh agar pemenangnya ada satu. Untuk cerita lengkapnya baca novelnya aja atau nonton filmnya.
Yang pengen gue bahas disini sih dari sisi kemanusiannya. Jadi dalam permainan tersebut, adegan brutal diseting menjadi reality show yg bisa ditonton orang-orang miskin setiap distrik dan juga terutama orang-orang sangat kaya di kota pusat (yg dinamai Capitol) untuk akhirnya mendapatkan pemenangnya mewakili distrik mereka.
Kalo pernah tau soal adu ayam, tinju, dan permainan tarung lainnya, sebenarnya permainan ini sama. Bedanya, di permainan ini lo harus membunuh atau lo bakal dibunuh. Dilain sisi sih ceritanya sebenarnya biasa aja, kayak kalo kita nonton film yang sang jagoannya saat membunuh alien dengan tembakan laser dan menghancurkannya berpuing-puing wajahnya lempeng tak berdosa karena sang alien pasti akan membunuhnya kalau gak dibunuh duluan. Atau film bunuh-membunuh dengan pistol seperti yang sering dilakukan para polisi Hollywood dalam aksi mereka pada film-film fiksi. Iya, singkatnya, sisi kemanusiannya gak ada dan gue merasa gak adil aja.
Jelas gak adil. Kenapa hanya yang miskin yang bertarung. Kenapa tidak ada satu orang pun yang memberontak dengan keadaan itu. Kenapa harus si kaya yg jadi penonton dan memberikan bantuan sponsor (kayak sistem voting idol, yg votingnya paling rame, dapat bahan makanan dalam permainan tersebut). Di sisi itu gue ngerasa penulisnya gak adil sama karakter2nya sendiri (terlalu menghayati cerita). Tapi bener lo. Bener2 tidak ada keadilan di dalamnya.
Tiba-tiba gue kebayang dengan sistem negara gue sendiri. Orang korupsi, melakukan kecurangan, dan lain sebagainya membuat yg makmur makin makmur, yang melarat makin melarat. Dimana sih kemanusian mereka. Setelah merenung gak penting. Gue langsung sadar dari cerita Hunger Games.
Ini sebenarnya cerita fiksi yang terinspirasi dari sebuah realita yang kita saksikan diberita-berita saat ini. Yang miskin tetap miskin, yang kaya tawa tiwi lupa masih ada yang miskin. Yang korupsi makin bnyak, saling bunuh juga banyak.Bedanya dalam novel ini, realita itu dikemas dalam permainan The Hunger Games. Cerdas.